Piece of Art

Minggu, 18 Januari 2015

Fan Fiction : Love Never Wrong But It Might Too Late Part 2

MY RAINY DAY



Jackson POV
Sudah tujuh tahun berlalu semenjak Mark pergi ke Los Angeles. Aku menjalani hidupku sebagaimana mestinya laki-laki menjalani kehidupan. Dari semua usaha bunuh diri yang ku lakukan gagal, kini aku hanya bisa berharap bahwa Mark akan datang kembali meskipun entah bagaimana statusnya. Ku rasa hidupku tidak sia-sia walaupun tanpa Mark karena aku menjadi sukarelawan di gereja dekat rumahku. Aku meninggalkan semua kenangan ku bersama Mark di rumah sewaan itu, dan juga tak berkomunikasi lagi dengan Suzy. Yang ku punya hanyalah nomor Jay di hp-ku, berharap Jay akan menelponku jika Mark datang.

“Kak, aku lapar.” rintihan anak kecil yang berada di depan rumahku

Aku tak tahu dia siapa tapi wajahnya mirip sekali dengan Mark. Aku memperbolehkannya masuk dan memberikan dia makanan.

“Kamu berasal dari mana? Dimana orangtua mu ?”

“Aku.. aku tersesat disini. Aku tak bisa menemukan ayahku, kak.” anak kecil itu menangis

“Aku akan telepon ayahmu, berikan noomornya padaku.”

Lalu, aku menelpon ayah dari anak itu. Saat aku mendengar suaranya, aku melihat ke arah anak kecil tersebut.

“Apakah kamu mark ?” tanyaku tanpa memikirkan anak kecil itu

“Siapa kamu ? Kau mengenaliku ?”

“Kau tak tahu siapa aku?” tanyaku padanya

“Bagaimana bisa aku mengetahui siapa kau hanya dengan suaramu!” bentaknya

“Anakmu ada dirumahku, datanglah segera kesini. Dia tersesat dan sangat menunggu kehadiranmu. Aku akan kirim alamat lengkap rumahku.” aku mematikan ponselku

Aku terdiam sejenak, selama tujuh tahun aku mendengar kembali suara itu. suara yang selalu aku simpan dalam hati dan pikiranku.

“Kak, apakah ayahku akan datang kesini ?”

“Tunggu saja.”

Aku pergi ke kamarku dan mengabaikan anak itu hingga ayahnya datang. Aku benar-benar tak berharap ayah dari anak tersebut adalah Mark. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan, mungkin aku akan hancur berkeping-keping.



*knock-knock*

Aku mendengar ketukan suara pintu, aku membiarkan anak kecil itu membuka pintu. Aku tetap mengabaikannya dan menaikkan volume lagu di kamarku.

“Kak, bukalah pintu. Aku ingin berpamitan pulang.” kata anak kecil itu

Aku mendengarnya tapi aku masih mengabaikannya, hingga tak lama kemudian aku mendengar suara pintu kamarku terbuka.

“Terimakasih sudah menyelamatkan anakku, jika bukan karena kau mungkin aku tak tahu mencarinya kemana lagi.”

“Nevermind.” Kataku tanpa menoleh ke arahnya

Tanpa ku sadari, aku meneteskan airmata. Suara yang selama ini aku rindukan.

“Siapa namamu ?” dia bertanya lagi padaku

“Bawalah anakmu pulang sekarang, dia pasti merindukan ibunya.”

“Bagaimanapun juga aku berhutang budi padamu, aku ingin tahu siapa namamu ?”

“Tak perlu! Pergilah sekarang! Aku tak ingin diganggu.” Bentakku

“Maaf jika kami mengganggu waktumu tapi jujur kau seperti orang yang ku kenal.”

“Kau mengenaliku?” dan aku meneteskan airmata lagi

“Hanya sekilas, mungkin aku salah orang. Kami pergi dulu, terimakasih.”

Aku menangis tak henti saat mendengar suara pintu kamarku tertutup. Hatiku sakit, aku ingin tahu apakah dia benar-benar Mark? Tapi, jika aku menoleh ke belakang aku yakin aku tak bisa menerima kenyataan yang ada. Mengapa dia mengingkari janjinya ? Bukankah dia bilang dia akan menikah setelah aku menikah ? Mengapa dia duluan yang menikah ? Mengapa dia tak mengabariku saat dia menikah ? Aku sangat membencinya.

Setelah dua jam menangis di kamar, aku keluar dari rumah. Tepat di depan pintu, aku melihatnya. Seseorang yang membodohiku dan melukai hatiku.

“Terimakasih.” dia tersenyum padaku

“Kau mengingatku ?” aku menetaskan airmata

“Tidak. Aku Mark. Dan kau ?”

“Kau tak perlu tahu.” aku mengusap airmataku dan meninggalkannya

“Kaaaaaaaak.” Kata anak kecil yang lari dari arah belakangku

“Mengapa kamu ikuti aku? Pergilah dengan ayahmu! Kau sudah dijemput, jangan menyusahkanku!” bentakku padanya

“Kak, ayahku tak pernah sebaik itu dengan orang.”

“Itu bukan urusanku!” aku melanjutkan perjalananku menuju gereja

“Ayah seperti mengenalimu! Tapi, mungkin dia tidak ingat!”

Aku berhenti sejenak dan anak itu menghampiriku.

“Aku rasa ayah mengenalimu di masa lalu tapi dia tidak ingat. Ayah tak ingin kembali ke rumah sebelum dia tahu siapa kamu, kak.”

“Ayahmu hilang ingatan ?”

“Ibu pernah cerita sebelum ibu menikah dengan ayah, ayah mengalami kecelakaan yang menyebabkan ayah hilang ingatan.”

“Lalu, dimana ibumu ?”

“Ibuku sudah meninggal satu tahun yang lalu. Semenjak ibu meninggal, ayah sering bermimpi buruk.”

“Kau bisa cerita padaku di gereja, ikutlah denganku.”

“Bagaimana dengan ayah ku ?”

“Biarkan dia disana, aku tak ingin melihatnya.”

Sesampainya di gereja....

“Ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi pada ayahmu ?”

Anak itu menangis dan memelukku

“Kak, aku mohon padamu. Bersikaplah baik dengan ayahku meskipun suatu hari nanti kalian akan terluka.”

“Apa maksudmu ?” tanyaku

“Sebelum ibu meninggal, ibu menceritakan semua tentang ayah. Ayah memiliki seseorang yang dia cintai dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Itulah yang ibuku ketahui sebelum ibu menikah. Ibu menerima ayah apa adanya tanpa memikirkan begitu banyaknya luka dihati ibu. Ibu bilang seseorang itu bernama Jackson. Apa kakak bernama Jackson ? Apakah kamu Jackson yang diceritakan ibuku ?” dia menangis

Aku terdiam lemah tak berdaya, melihat anak itu menangis di depanku

“Mengapa ayah harus mencintaimu?!! Mengapa ayah melukai ibuku hanya demi kamu kak?” dia teriak dan memukuliku

“Maaf, aku tak tahu. Dia tak pernah mengabariku semenjak dia berada di LA.”

“Bagaimana bisa dia mengabarimu saat dia hilang ingatan?!! Mengapa kamu membuat ayahku merasa bersalah ? Ayah mimpi buruk karenamu!! Karena mu juga, hati ibuku hancur dan bunuh diri!!!!!!!!!!” bentaknya

“Apa?” aku menetaskan airmata

“Ibu meninggal di hadapanku! Kau tahu kata terakhir yang ibu ucapkan padaku ? Jika suatu hari kau menemui Jackson, jangan membencinya seperti aku membencinya. Saat ibuku meninggal, hati ibuku masih terluka karena kamu kak!!! Kamu harusnya juga mati seperti ibuku!!”

Aku menangis tak tahu harus berkata apa setelah mendengar semua perkataannya. Selama tujuh tahun, ternyata Mark yang lebih menderita. Dan tanpa kusadari, aku melukai anak itu dan juga ibunya.

“Kau pasti mengenali ibuku! Karena ibuku mengenalimu! Setiap ibu menangis, dia selalu mengucapkan namamu kak!!!”

“Siapa nama ibumu ?”

“Suzy.”

“Apa????????? Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi ?” aku memukul dadaku dan menangis keras

“Apa yang akan kau lakukan untuk mengganti nyawa ibuku?!! Aku bahkan tak bisa menceritakan itu pada ayah karena ayah yang tak mengenalimu!”

“Tolong, jangan katakan hal itu padanya.” aku memegang tangannya

“Kenapa ? Kau ingin bahagia ? Hidup bersama ayahku ? Tak akan aku biarkan!!”

“Bukan itu yang aku mau! Jika kamu cerita pada ayahmu, ayahmu lah yang akan terluka! Aku tahu bagaimana ayahmu, dia akan rapuh. Dia akan merasa bersalah saat dia tahu suzy meninggal karena dia dan aku!”

“Dan kamu tak merasa bersalah kak ?”

“Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku ? Apa aku mati lalu kau akan hidup tenang?”

“Aku belum ingin kamu mati, kamu masih dibutuhkan agar ayahku bisa mengingat masa lalunya. Itulah yang ku butuhkan sekarang setelah itu aku akan membunuhmu!”

“Kamu ingin membunuhku ? Aku akan menunggu waktunya tiba. Bunuhlah aku jika itu membuatmu lega.” aku melepaskan tangannya

“Aku akan datang padamu ketika aku dewasa. Jangan mati sebelum aku membunuhmu!”

“Baiklah.”

“Aku ingin kamu menemui ayahku. Dan biarkan ayahku menginap dirumahmu sampai dia mengingat semuanya.”

“Bagaimana denganmu ?”

“Aku akan tinggal disini.”

“Tidak! Kau adalah tanggung jawabku!”

“Kau bukan siapa-siapa kak! Kamu hanyalah pembunuh ibuku!”

“Setidaknya kamu berpura-pura tak terjadi apapun demi ayahmu. Demi ayahmu, tinggal dirumahku. Jika sesuatu terjadi padamu, ayahmu akan sangat menyesal.”

“Pergilah duluan.”

Aku pergi meninggalkannya sendiri dan menitip Pastur untuk menjaganya disana. Aku kembali ke rumah ku, dan melihat Mark masih ada di depan rumah ku.

“Kau tak ingin masuk ?” aku menawarkannya

“Thanks.”

“Btw, siapa namamu ?” aku berpura-pura bertanya seakan aku tak mengenalinya

“Mark, dan kamu ?”

“Aku Jackson.” aku melemparkan senyuman padanya

“Seperti nama yang pernah aku dengar, terlihat sangat dekat untukku.”

“Mungkin. Tapi, aku tak mengenalimu.”

“Sepertinya.”

“Apa kau sudah makan ? Aku ingin masak pizza untukmu.”

“Pizza? Itu makanan kesukaanku. Wow, bagaimana kau tahu ?”

“Jenis orang sepertimu banyak yang suka pizza.” aku mengedipkan mataku

Hatiku sangat sakit menerima kenyataan. Mungkin inilah jawaban dari usaha bunuh diriku yang gagal. Suzy tak ingin aku mati demi Mark. Tapi, dari semua kepuraan-puraan ini aku takut menghadapi akhir ceritaku dengan Mark. Aku termenung sejenak di dapur sambil menunggu pizza matang.

Tak lama setelah pizza matang, anak itu kembali ke rumah.

“Ayah.” aku melihatnya dia memeluk Mark

“Kenapa anakku ?”

“Aku ingin menginap disini.”

“Boleh, tapi ayah kembali ke LA.”

“Tidak! Aku mau sama ayah.”

“Lalu, bagaimana dengan pekerjaan ayah ?”

“Aku ingin kita berlibur disini ayah.”

“Berapa lama ?”

“Hmmmm. Satu bulan.”

“Hah? Tidak bisa. Jika ayah tidak masuk selama sebulan, ayah akan dipecat.”

“Kalau begitu, cari saja pekerjaan baru.”

“Tidak. Kamu tak boleh mengorbankan karir ayahmu demi liburan!” bentakku dan menatapnya

“Persetan dengan apa yang kau katakan!” dia melihat ke arahku

“Berhenti! Mengapa kalian bertengkar ? Apakah kalian sudah cukup saling mengenal sehingga bisa meninggikan suara ?!” kata Mark

“Tidak, aku hanya tidak ingin kau melepaskan pekerjaanmu. Jangan, mark.” aku menatap matanya

“Aaaaah, aaah kepalaku sakit!!”’ teriak Mark memegang kepalanya

“Ayah kau tidak apa –apa?”

“Mark, are you ok??”

“Bawa ayahku ke kamar, cepat!!”

Segera aku membawanya ke kamarku

“Jackson! Kepalaku sakit.” dia menatap mataku dan menangis

“Aku akan biarkan kalian berdua disini, aku keluar.”

Aku menarik tangan anak itu, “Dia membutuhkanmu.”

“Ayahku sudah mengenalimu!!!! Mungkin aku yang akan dilupakan.” anak itu menangis

“Aaaaaaah, kepalaku!! Tuhan, sakit!!!” teriak Mark

“Aku tak bisa membiarkan dia disini, kita bawa ayahmu ke rumah sakit.”

Sesampai di rumah sakit dan menunggu kabar dari dokter. Akhirnya setelah sejam berlalu, dokter keluar dari ruangan.

“Ada apa dengan ayahku, dok?” anak kecil itu menangis

“Aku harus bicara dengan walimu, yang lebih tua darimu.”

“Aku kakaknya, dok.”

“Mari kita bicarakan di ruang saya.”

Sesaat di ruangan dokter tersebut

“Aku menemukan kesulitan yang parah di otak pasien untuk mengingat masa lalunya.”

“Dok?”

“Jika dia tetap berusaha untuk menggali masa lalunya, maka dia takkan bertahan lama.”

Aku menetaskan airmataku, mengapa ? Mengapa setelah tujuh tahun tak bertemu begitu banyak luka-luka yang harus aku dan Mark alami.

“Dokter, lalu bagaimana ? Apa yang harus ku lakukan ?”

“Jangan biarkan dia mengingat masalalunya. Jangan biarkan dia hidup bersama masa lalunya.”

“Apakah  tak ada yang bisa di lakukan untuknya ? Mungkin bisa dengan cara terapi ? Lakukan apapun untuk dia, dok!!”

“Tenanglah. Dia akan baik-baik saja jika kau berpura-pura tidak mengenalinya dan tak mengingatkannya pada masa lalu kalian berdua.”

“Apa? Kau siapa?!! Kau mengenaliku dan Mark?”

“Tentu. Aku melakukan operasi plastik jadi kau tak mengenaliku. Aku Jay, Jackson. Aku sangat terkejut melihat kau setelah tujuh tahun tidak bertemu. Aku tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kita dengan keadaan yang seperti ini.” Jay menangis dihadapanku

“Kau tahu Mark menikah dengan Suzy ?”

“Iya.”

“Kau juga tahu anak kecil itu adalah anaknya Mark ?”

“Iya.”

“Kau tahu Suzy meninggal karena aku ?”

“Apa?”

“Bastard!!!!! Kau seharusnya kasih tahu aku jadi semua tak akan seperti ini!!!”

“Kau bilang Suzy meninggal karena kau ?”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Jay? Jika Mark masih tak ingat padaku, anak itu akan makin membenciku.”

“Dia tahu semua tentangmu ?”

“Suzy menceritakan semuanya pada anak itu, saat dia tau aku adalah Jackson. Dia begitu membenciku.” aku menangis

“Maaf, Jackson. Aku pikir, tidak memberitahumu adalah jalan terbaik untuk kalian.”

“Kau juga tahu Mark kecelakaan dan mengalami hilang ingatan ?”

“Iya.”

“Tanpa memberitahuku ?”

“Maafkan aku, Jackson. Yang ku pikirkan saat itu hanya perasaan Suzy. Semua yang kulakukan untuk Suzy ternyata sia-sia.”

“Apa yang sedang kau katakan?”

“Aku akan ceritakan dari awal. Setelah seminggu Mark di LA, aku dan Suzy menyusulnya. Saat itu kau sudah pindah rumahkan? Aku sengaja tak menelponmu karena aku pikir aku harus meminta persetujuan Mark dulu sebelum kau menemuinya. Lalu, selama tinggal di LA kami bertiga semakin dekat lebih dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya  aku melihat Suzy bahagia. Saat itu, Mark mengalami kecelakaan sebelum menikah dengan Suzy. Dia memiliki gangguan serius di otaknya sehingga menyebabkan dia lupa ingatan. Ketika Mark sudah sembuh, aku membuat rencana untuk mempertemukan Suzy dengan Mark di hotel. Aku tak sangka rencanaku berhasil dan mereka berhubugan intim. Tak lama setelah itu, Suzy cerita bahwa dia hamil. Aku memberitahukan Mark dan Mark memutuskan untuk menikahi Suzy. Saat pernikahan mereka selesai, aku kembali ke negara ini. Tapi, selama setahun Suzy tak mengabariku. Aku menelponnya tapi tak pernah bisa. Aku tak tahu ternyata dia meninggal. Mengapa Mark tak memberitahuku?” Jay menangis

“Lalu, apa harus kita lakukan untuk Mark?”

“Aku tak tahu, Jackson.”

“Aku akan menemui anak itu, dia membutuhkanku.”

“Tidak. Kau disini saja. Dia pasti tertekan dengan semua yang udah dia alami. Aku akan menenangkannya.” Jay tersenyum padaku dan memegang bahuku

Selama tiga jam aku menunggunya, Jay tak kembali kesini. Aku mendatangi kamar Mark dan tak melihat Jay ataupun anak itu. Aku berlari dan mengelilingi rumah sakit tapi aku tak menemukan mereka. Aku telepon Jay dan dia tak mengangkatnya. Aku menyerah dan kembali ke kamar Mark. Sesampai disana, pintu kamar terbuka. Aku mengintip dari luar, aku melihat tangan Jay penuh dengan darah.

“Maafkan aku Mark, semua terjadi seperti ini karena aku. Maaf, aku juga membunuh anak mu.” teriaknya

Aku masuk ke dalam dan menariknya keluar kamar. Aku mendorongnya ke tembok.

“Apa kau gila? Apa yang kau lakukan kepada anak itu?!!!! Brengsek! Dimana anak itu sekarang ? Katakan!!!”

“Aku membunuhnya, Jackson.” dia tetap menangis

“Apa? Mengapa? Kenapa kau lakukan itu?”

“Aku ingin kau bahagia dengan Jackson, tanpa anak itu!!”

“Bodoh! Yang harusnya kau bunuh adalah aku, bukan anak itu!! Aku bahkan tak tahu namanya. Kau membunuhnya membuatku benar-benar menjadi pembunuh!”

“Katakanlah pada Mark bahwa anaknya pergi ke rumah neneknya. Dan kau bisa hidup bahagia bersamanya. Aku akan mengeluarkan diri dari pekerjaanku.” Jay melepaskan tangaku dari kerahnya

Aku  menangis keras mendengar semua itu, aku tak tahu bagaimana aku hidup penuh dengan kebohongan. Bagaimana bisa aku membohongi Mark yang telah mengalami banyak luka? Aku ingin mati, aku ingin berhenti. Seandainya saja anak itu tidak ku persilahkan masuk ke rumahku, mungkin ini tak akan terjadi....


Rabu, 29 Oktober 2014

Sumber Dari Segala Cinta

Kau berikan segala
Yang tak pernah ku rasakan
Dan kini aku mengerti
Kaulah yang selama ini ku cari

Mengapa dulu ku tak menyadari
Tak seharusnya ku mencari
Dimana cinta sejati
Dan berharap tuk menanti

Kamulah sumber dari cinta
Segala cinta yang berada
Sumber dari segala cinta
Yang takkan ditelan masa


Bila tanpamu
Aku takkan bisa tahu
Apa sesungguhnya makna cinta
Dan mengartikan rasa di hatiku

Kamulah sumber dari cinta
Segala cinta yang telah ada
Sumber dari segala kekuatan
Bertahan tuk tetap dalam cintamu


*semua puisi yang terdapat di blog ini adalah milik sendiri, hak ciptaan sendiri. Mohon agar tidak menyalin ulang, terimakasih*



Senin, 27 Oktober 2014

Fan Fiction : Love Never Wrong But It Might Too Late Part 1 (MarkSon GOT7)

FORBIDDEN LOVE



MARK POV 
   Aku sangat lelah dengan kegiatan di kampus. Tapi kelelahanku menghilang begitu saja ketika aku melihat Jackson. Dia adalah penyemangat dalam hidupku meskipun aku tak tahu sampai kapan aku dan dia akan sekamar seperti ini. Aku sangat menantikan waktu berdua di kamar saat aku berada di kampus. Dan membuatku tidak fokus dalam mengikuti mata kuliah tapi tak mengapa jika Jackson tak tahu akan hal itu.

“Mark, kau tak berangkat kuliah ?” tanya Jackson

“Tidak, aku libur.”

“Libur ? Baiklah.”

“Jackson, bagaimana jika kita pergi bersama ? Aku bosan jika hanya berada di kamar.”

“Oke.”

Aku dan Jackson pergi ke taman. Aku yang mengajaknya. Memang terlihat aneh tapi hal ini membuatku bahagia. Aku tak pernah merasakan bahagia seperti ini.

“Mark, kau mau sesuatu untuk dimakan ?”

“Belikan aku ice cream.”

“Oke, tunggu saja disini.”

Aku menunggu Jackson kembali di bangku ini. Melihatnya dari jauh semakin membuatku berpikir, “Bolehkah aku hidup bersamanya selamanya, Tuhan ? Aku membutuhkannya. Aku masih tak mengerti dengan perasaan ini.” Aku selalu memikirkan hal yang akan terjadi di masa depan tentang siapa yang akan terlebih dahulu menikah, aku atau dia ? Sejujurnya aku tak ingin kehilangannya, tapi aku tak bisa memaksakan hatinya. Dan perasaan ini masih aku sembunyikan, Jackson tidak boleh tahu tentang perasaan ini.

“Ini ice cream mu, Mark.”

“Terima kasih, Jackson.”

Hanya aku dan Jackson yang duduk di bangku ini. Hatiku sangat berdebar tapi aku pastikan Jackson tak tahu tentang apa yang aku rasakan. Semua orang yang ada di taman menatap kami berdua, aku mengakui bahwa kami terlihat aneh. Semua orang akan berpikir bahwa kami gay. Tapi, tidak. Aku yakin bahwa aku masih lelaki normal. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk menghilangkan perasaan aneh ini. Jika aku tidak bisa menghilangkannya, aku pastikan untuk pergi jauh dimana aku tak mungkin bertemu dengan Jackson lagi.

“Mark, mengapa menatapku seperti itu ? Ada yang salah denganku ? Bajuku ? Beritahu aku.”

“Tidak, Jackson. Aku.... hanya mengaggumi ketampananmu.”

“Hey, hey. Kau lebih tampan dariku, jangan merendahkan diri seperti itu, sahabatku.”

Mendengar kata “Sahabat” yang dia ucapkan membuat hatiku begitu sakit. Hingga detik ini aku masih belum mengerti dengan perasaanku. Dia telah menjadi teman sekamarku dalam 4 tahun terakhir ini. Dan dia yang mengubahku menjadi lelaki yang ceria. Dia mewarnai hidupku sebagai teman tapi di saat tertentu aku merasa ada yang tidak sewajarnya di hatiku.

“Jackson, jika aku pergi ke luar negeri apa kau akan keberatan ?”

“Kenapa kau ingin pergi ke luar negeri, Mark ?”

“Ah, aku hanya merindukan keluargaku di Los Angeles.”

“Pergilah jika itu membuatmu bahagia. Aku akan menunggu oleh-oleh darimu.”  ucap Jackson dengan senyuman di bibirnya. Aku tak kuasa menahan rasa sakit di hatiku. Aku pergi meninggalkan Jackson. Aku berlari secepat yang aku bisa. Aku tak bisa mengendalikan emosiku, aku menangis di perjalananku. Mungkinkah dia tak akan merindukanku ? Apakah aku harus pergi meninggalkannya ? Setelah dua jam aku berada di stasiun bawah tanah, akhirnya aku kembali ke rumah sewaan.

Sesampai disana, aku melihat Jackson bercinta dengan wanita di sofa. Aku tak mungkin masuk di saat mereka sedang melakukan hal itu. Aku mengurung niatku untuk kembali kerumah. Jackson tak akan mencemaskanku, Jackson telah berubah. Dia bukan Jackson yang dulu. Aku akan menginap di rumah mantan pacarku, Ailee. Ailee selalu menerimaku kapanpun aku menginginkannya. Dan akan ku pastikan malam ini aku bersenang-senang dengan Ailee.

“Hey, Mark. Aku senang kau datang, silahkan masuk.” Dia menyapaku dengan hangat seperti biasanya
Tanpa basa – basi, aku memeluknya erat lalu dia mencium bibirku. Aku tak kuasa menahannya, aku bercinta dengannya di sofa.

*Di pagi hari

“Mark, kau sudah bangun ? Aku harap kau senang dengan apa yang kita lakukan semalam.”’

“Iya, tentu Ailee.”

“Makanlah, aku sudah menyiapkan sarapan.”

“Aku ingin mandi.”

Selesai mandi aku membereskan barang – barangku. Aku tak ingin makan. Aku tak lapar. Aku harus segera ke kampus, hari ini aku ujian. Aku mencium bibirnya lagi dan pergi meninggalkan rumah itu.
Selesai ujian matematika

“Mark, Jackson mencarimu semalam. Dia khawatir padamu.” ucap Jay

Aku terkejut mendengar hal itu. Jackson mencariku di rumah Jay ? Jay, dia satu – satunya orang yang ku percaya di kelas ini. Aku sengaja mengenalkan Jay dengan Jackson saat itu karena aku pikir Jay akan menjadi tumpuan ku dan Jackson. 

“Lalu, kau bilang apa Jay ?”

“Karena aku tak tahu kau berada dimana, jadi aku terpaksa membohonginya.”

“Kau bilang apa ?”

“Aku bilang kalau kau sedang ada di klub malam. Hey, Mark. Maafkan aku ya.”

“Justru aku mau berterima kasih padamu, Jay. Dengan begitu Jackson tak akan menghawatirkanku.”

“Tapi, Mark. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya ? Kita sudah berteman cukup lama, kau tak pernah pergi dari rumah sewaan tanpa ada kabar. Kau ada masalah ?”

“Tidak. Aku hanya merindukan Ailee.”

“Ailee ?!!! Apa kau bercinta dengannya semalam ?”

“Bukan urusanmu, Jay.”

“Heyyy, kau memang playboy. Baru saja putus dari Suzy dan sekarang kau bermain hati dengan Ailee ? Hebat sekali!”

“Karena Ailee selalu mengemis cinta padaku, haha, sudahlah aku pulang duluan ya.”

“Hati – hati, Mark.”

Selama perjalananku kembali pulang, aku tak menyangka akan bertemu gadis polos itu. Suzy berada di hadapanku sekarang. Begitu sempitkah duniaku ? Haruskah aku bertemu dengannya ?

“Mark.” Dia memelukku. Dia tak memikirkan banyak orang yang lalu-lalang di jalan. Dia menangis dalam pelukanku. Aku tak tahu kenapa dia seperti itu.

“Mark, aku senang bisa bertemu denganmu disini. Aku sangat merindukanmu, Mark.”

“Hey, kita sudah putus. Jangan ganggu aku lagi. Ini yang terbaik buat kita, Suzy.” Aku melepas pelukkannya

“Mark, maafkan aku jika malam itu aku menolak permintaanmu. Aku ingin kau kembali padaku. Bawa aku ke hotel, Mark. Aku akan melakukan apa saja untukmu.”

“Mengapa tak di rumahmu saja ?”

“Kau gila ? Aku tak tinggal sendiri di rumah, orangtuaku pasti marah jika aku ketahuan bercinta.”

“Kalau begitu, lupakan aku. Aku tak bisa bercinta dengan gadis yang belum memiliki izin untuk bercinta dengan bebas.” Aku mendorongnya hingga ia terjatuh. Aku tak peduli, aku meninggalkannya.
Aku melanjutkan perjalananku kembali pulang, aku berharap aku tak bertemu secara kebetulan dengan mantan pacarku yang lain. Itu hanya membuatku risih. Sesampai di rumah sewa, aku melihat barang – barang berserekan di lantai (underwear, lipstick, sepatu, pakaian, tas).

“Mark, kau kembali.” dia memelukku dengan setengah bugil

“Pakai bajumu, Jackson. Kau tak tahu malu.”

“Kenapa aku harus malu denganmu ? Kita sudah bertahun-tahun tinggal disini. Kau bukan orang asing bagiku.”

“Urus saja jalangmu itu, aku ingin istirahat.”

“Okay.”

Aku tak mengerti bagaimana seharusnya menghadapi Jackson, aku berharap waktu mengubah segalanya secepat mungkin. Aku tak ingin menyakiti wanita lain lagi dan juga tak ingin melihat Jackson selalu bermesraan dengan jalang di rumah ini. Jika aku pindah kuliah dan menetap di luar negeri, mungkinkah akan berubah ? Mungkin saja aku bisa menjadi lelaki yang lebih baik dan bisa bersikap lembut dengan wanita. Aku masih memikirkan hal itu. Haruskah ?

“Mark, jangan melamun.” Jackson melemparkan bantal ke arahku

“Damn! Bantal ini sangat bau. Berapa lama kau bercinta dengan jalang itu ?”

“Hey, Mark. Jangan kasar begitu sama aku. Kau juga pernah bercinta, jangan munafik.”

“Pergilah, cuci bantal ini. Aku ingin muntah mencium bau itu.” aku membentaknya

*Malam hari

“Jackson, ada yang mengetuk pintu. Kau saja yang membuka pintu.”

“Okay.”

“Ah, Suzy ? Ada apa larut malam begini datang kesini ?”

“Bolehkah aku masuk, Jackson ?”

“Tentu.”

Apa yang di lakukan Jackson hingga dia tak kembali ke kamar ? Aku penasaran dan keluar dari kamar. Aku melihat Jackson mencium Suzy. Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Hatiku sangat sakit. Aku tak tahu mengapa, aku tak pernah sesakit ini. Apa aku masih sayang dengan Suzy ? Atau aku tak rela melihat Jackson mencium mantan pacarku ? Aku mengakui bahwa Suzy adalah wanita yang sulit di lupakan bahkan jika aku ingin. Aku putus dengannya bukan karena malam itu dia menolak untuk bercinta denganku tapi aku ingin Suzy mendapatkan lelaki yang baik bukan aku. Dan alasan mengapa aku bercinta dengan Ailee ? Karena Ailee adalah pelampiasan nafsuku. Dia selalu mengemis padaku, aku sangat tergoda setiap melihatnya. Aku tak bisa menolak jika dia ingin bercinta denganku. Tapi, Suzy, bukan ini yang aku mau. Aku tak mempermasalahkan jika dia tak ingin bercinta denganku, karena dia terlalu polos jadi aku bisa mengerti. Haruskah aku terluka seperti ini ? Aku tak bisa hidup seperti ini, aku pastikan untuk ke luar negeri besok.

“Mark, kenapa kau mengunci pintunya ?” dia menggedor pintu

“Tidurlah di kamar yang lain, aku ingin menikmati waktuku sendiri.”

“Okay.”

Aku sudah yakin untuk pergi dari negara ini. Seharusnya hal ini sudah ku lakukan dari dulu tapi baru bisa terlaksana sekarang. Aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan tas ku jatuh begitu saja di lantai. Aku terkejut melihatnya berdiri di depan pintu.

“Kau mau kemana, Mark ?”

“Oh, aku sudah pernah bilang bahwa aku ingin ke Los Angeles. Aku merindukan keluargaku, Jackson.”

“Kau tak akan merindukanku ?”

“Kau bilang bahwa kau tak keberatan jika aku pergi. Jackson, minggir. Jay sudah menungguku di 
bandara.”

“Tidak, Mark! Kau tak boleh pergi.” Dia memelukku sangat erat

“Kenapa ? Aku tak akan lama.”

Jackson menangis dalam pelukanku.

“Mark, aku tak ingin kau pergi. Tetaplah disini bersamaku. Selamanya.”

“Kau gila ?! Suatu hari nanti kita pasti menikahi perempuan.”

“Kau menginginkannya ? Tak bisakah kita berdua hidup bahagia ? Kita saja tanpa ada wanita.”

“Maksudmu ?”

“Kau tahu alasan mengapa aku berubah seperti ini ? Aku mengikutimu, bodoh. Aku bercinta dengan banyak wanita karena dirimu. Saat aku melihatmu bercinta dengan Ailee di sofa itu, aku bertekad untuk bisa sepertimu. Aku harus bercinta untuk menghilangkan cintaku padamu, Mark. Tapi aku sudah lelah.”

“Aku masih normal, Jackson!” aku meninggikan suaraku

“Jangan menipu hatimu, Mark. Aku tahu kau juga mencintaiku. Saat kita di taman, aku tahu bahwa kau juga menyukaiku. Bisakah kau tidak berbohong padaku, Mark ?”

“Aku ingin bertanya, apa saja yang kau lakukan dengan Suzy semalam ?”

“Kau melihatnya ? Kami hanya berciuman. Kauboleh tak percaya dengan apa yang ku katakan ini tapi yang pasti bukan aku yang memulai, Mark. Dia yang menciumku. Dia ingin aku memberikanmu padanya karena itulah dia menciumku.”

“Memberikanku padanya ?”

“Iya, Suzy menceritakan semuanya semalam. Kau ingat saat kau mabuk di kamarnya ? Suzy bilang bahwa kau mencintaiku. Kau ingin bercinta dengannya hanya demi pelampiasan. Dia menolak karena dia takut dengan ayahnya dan sekarang Suzy ingin kau kembali padanya, Mark. Tapi aku tak bisa, aku tak ingin melepaskanmu. Aku menceritakan perasaanku yang sebenarnya dengan Suzy. Dia menerimanya. Jadi, tolong lupakan Suzy. Aku tahu dia orang yang sulit untuk kau lupakan. Tapi cobalah untuk memulai dari awal lagi, Mark. Aku ingin hidup bahagia bersamamu.”

“Maafkan aku, Jackson. Kita tak bisa hidup seperti itu.”

“Kau juga menyukaiku!!”’

“Aku membutuhkan waktu untuk menyadarkan diriku sendiri.”

“Tidak perlu. Kau hanya membutuhkanku untuk menjadi milikmu.”

“Jackson, kita butuh waktu untuk memudarkan perasaan ini.”

“Mark, tolong. Jangan pergi dari hidupku.”

“Hal yang perlu kau tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasangan. Dan takdir seorang laki – laki adalah seorang wanita. Maafkan aku, Jackson.”

“Kita punya hak atas perasaan kita sendiri, Mark. Tak ada yang bisa melarang perasaan ini sekalipun Tuhan.” bentaknya

“Jackson , dengarkan aku. Di luar sana memang banyak pasangan yang sejenis tapi kita tidak bisa hidup seperti itu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk orang yang paling aku cinta. Aku ingin yang terbaik untukmu, Jackson. Aku ingin kita bahagia dengan jalan kita masing-masing. Aku ingin melihat kau menikah dengan wanita cantik lalu memiliki anak. Jika anakmu perempuan dan anakku laki-laki, kita bisa menjodohkan mereka. Kita bisa hidupa bahagia hingga tua menjadi sahabat.”

“Aku hanya ingin hidup bahagia dengamu, Mark tanpa wanita.” Jackson menatapku

“Jika kau benar – benar sayang padaku, lakukan apa yang aku katakan. Kau harus menikah dengan wanita yang kau cintai, cantik dan menerimamu apa adanya. Jika kau bilang kau mencintaiku, buktikanlah dengan menikahi seorang wanita. Kita akan bertemu kembali, Jackson. Aku pastikan akan kembali kesini untuk melihatmu menikah. Kau harus bahagia tanpa aku. Cinta yang kita rasakan mungkin hanya sementara dan ini sangat tidak wajar. Tolong lakukan ini demi aku. Kau harus berjanji padaku untuk melaksanakan keinganku. Janji ? Kau pasti bisa melakukannya untukku.”

“Iya, aku berjanji. Aku bersumpah akan menikah dengan wanita cantik dan kau pasti akan menyukainya selayak aku menyukainya. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu, Mark ?”

“Iya, apa saja untukmu.”

Jackson mencium bibirku. Hanya ini yang bisa aku berikan untuknya. Aku ingin kami bahagia dengan wanita. Biarkan ciuman ini menjadi awal untuk memulai kebahagiaan kami. Aku pasti kembali untuknya sebagai seorang sahabat. Dia berhak bahagia begitu juga denganku. Inilah akhir dari kisahku dengannya selama empat tahun. Jackson, nama itu tak akan pernah aku lupakan. Jika Tuhan tak mengizinkanku untuk bertemunya kembali, setidaknya dia takkan terhapus dari cerita hidupku. Dia akan selalu ada disini, di hatiku. Dan aku berharap Jackson juga tak melupakanku. Biarkanlah hidup berjalan sebagaimana mestinya. Yang aku tahu, inilah yang terbaik untukku dan Jackson. Ciuman ini berakhir dengan air mata bahagia.

“Sampai jumpa kembali, Jackson.” Aku memberikan senyuman terakhirku padanya





-THE END-


NOTE for versi english you can find out on #WATTPAD : http://www.wattpad.com/story/18192802-love-never-wrong-but-it-might-too-late-markson