Piece of Art

Rabu, 29 Oktober 2014

Sumber Dari Segala Cinta

Kau berikan segala
Yang tak pernah ku rasakan
Dan kini aku mengerti
Kaulah yang selama ini ku cari

Mengapa dulu ku tak menyadari
Tak seharusnya ku mencari
Dimana cinta sejati
Dan berharap tuk menanti

Kamulah sumber dari cinta
Segala cinta yang berada
Sumber dari segala cinta
Yang takkan ditelan masa


Bila tanpamu
Aku takkan bisa tahu
Apa sesungguhnya makna cinta
Dan mengartikan rasa di hatiku

Kamulah sumber dari cinta
Segala cinta yang telah ada
Sumber dari segala kekuatan
Bertahan tuk tetap dalam cintamu


*semua puisi yang terdapat di blog ini adalah milik sendiri, hak ciptaan sendiri. Mohon agar tidak menyalin ulang, terimakasih*



Senin, 27 Oktober 2014

Fan Fiction : Love Never Wrong But It Might Too Late Part 1 (MarkSon GOT7)

FORBIDDEN LOVE



MARK POV 
   Aku sangat lelah dengan kegiatan di kampus. Tapi kelelahanku menghilang begitu saja ketika aku melihat Jackson. Dia adalah penyemangat dalam hidupku meskipun aku tak tahu sampai kapan aku dan dia akan sekamar seperti ini. Aku sangat menantikan waktu berdua di kamar saat aku berada di kampus. Dan membuatku tidak fokus dalam mengikuti mata kuliah tapi tak mengapa jika Jackson tak tahu akan hal itu.

“Mark, kau tak berangkat kuliah ?” tanya Jackson

“Tidak, aku libur.”

“Libur ? Baiklah.”

“Jackson, bagaimana jika kita pergi bersama ? Aku bosan jika hanya berada di kamar.”

“Oke.”

Aku dan Jackson pergi ke taman. Aku yang mengajaknya. Memang terlihat aneh tapi hal ini membuatku bahagia. Aku tak pernah merasakan bahagia seperti ini.

“Mark, kau mau sesuatu untuk dimakan ?”

“Belikan aku ice cream.”

“Oke, tunggu saja disini.”

Aku menunggu Jackson kembali di bangku ini. Melihatnya dari jauh semakin membuatku berpikir, “Bolehkah aku hidup bersamanya selamanya, Tuhan ? Aku membutuhkannya. Aku masih tak mengerti dengan perasaan ini.” Aku selalu memikirkan hal yang akan terjadi di masa depan tentang siapa yang akan terlebih dahulu menikah, aku atau dia ? Sejujurnya aku tak ingin kehilangannya, tapi aku tak bisa memaksakan hatinya. Dan perasaan ini masih aku sembunyikan, Jackson tidak boleh tahu tentang perasaan ini.

“Ini ice cream mu, Mark.”

“Terima kasih, Jackson.”

Hanya aku dan Jackson yang duduk di bangku ini. Hatiku sangat berdebar tapi aku pastikan Jackson tak tahu tentang apa yang aku rasakan. Semua orang yang ada di taman menatap kami berdua, aku mengakui bahwa kami terlihat aneh. Semua orang akan berpikir bahwa kami gay. Tapi, tidak. Aku yakin bahwa aku masih lelaki normal. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk menghilangkan perasaan aneh ini. Jika aku tidak bisa menghilangkannya, aku pastikan untuk pergi jauh dimana aku tak mungkin bertemu dengan Jackson lagi.

“Mark, mengapa menatapku seperti itu ? Ada yang salah denganku ? Bajuku ? Beritahu aku.”

“Tidak, Jackson. Aku.... hanya mengaggumi ketampananmu.”

“Hey, hey. Kau lebih tampan dariku, jangan merendahkan diri seperti itu, sahabatku.”

Mendengar kata “Sahabat” yang dia ucapkan membuat hatiku begitu sakit. Hingga detik ini aku masih belum mengerti dengan perasaanku. Dia telah menjadi teman sekamarku dalam 4 tahun terakhir ini. Dan dia yang mengubahku menjadi lelaki yang ceria. Dia mewarnai hidupku sebagai teman tapi di saat tertentu aku merasa ada yang tidak sewajarnya di hatiku.

“Jackson, jika aku pergi ke luar negeri apa kau akan keberatan ?”

“Kenapa kau ingin pergi ke luar negeri, Mark ?”

“Ah, aku hanya merindukan keluargaku di Los Angeles.”

“Pergilah jika itu membuatmu bahagia. Aku akan menunggu oleh-oleh darimu.”  ucap Jackson dengan senyuman di bibirnya. Aku tak kuasa menahan rasa sakit di hatiku. Aku pergi meninggalkan Jackson. Aku berlari secepat yang aku bisa. Aku tak bisa mengendalikan emosiku, aku menangis di perjalananku. Mungkinkah dia tak akan merindukanku ? Apakah aku harus pergi meninggalkannya ? Setelah dua jam aku berada di stasiun bawah tanah, akhirnya aku kembali ke rumah sewaan.

Sesampai disana, aku melihat Jackson bercinta dengan wanita di sofa. Aku tak mungkin masuk di saat mereka sedang melakukan hal itu. Aku mengurung niatku untuk kembali kerumah. Jackson tak akan mencemaskanku, Jackson telah berubah. Dia bukan Jackson yang dulu. Aku akan menginap di rumah mantan pacarku, Ailee. Ailee selalu menerimaku kapanpun aku menginginkannya. Dan akan ku pastikan malam ini aku bersenang-senang dengan Ailee.

“Hey, Mark. Aku senang kau datang, silahkan masuk.” Dia menyapaku dengan hangat seperti biasanya
Tanpa basa – basi, aku memeluknya erat lalu dia mencium bibirku. Aku tak kuasa menahannya, aku bercinta dengannya di sofa.

*Di pagi hari

“Mark, kau sudah bangun ? Aku harap kau senang dengan apa yang kita lakukan semalam.”’

“Iya, tentu Ailee.”

“Makanlah, aku sudah menyiapkan sarapan.”

“Aku ingin mandi.”

Selesai mandi aku membereskan barang – barangku. Aku tak ingin makan. Aku tak lapar. Aku harus segera ke kampus, hari ini aku ujian. Aku mencium bibirnya lagi dan pergi meninggalkan rumah itu.
Selesai ujian matematika

“Mark, Jackson mencarimu semalam. Dia khawatir padamu.” ucap Jay

Aku terkejut mendengar hal itu. Jackson mencariku di rumah Jay ? Jay, dia satu – satunya orang yang ku percaya di kelas ini. Aku sengaja mengenalkan Jay dengan Jackson saat itu karena aku pikir Jay akan menjadi tumpuan ku dan Jackson. 

“Lalu, kau bilang apa Jay ?”

“Karena aku tak tahu kau berada dimana, jadi aku terpaksa membohonginya.”

“Kau bilang apa ?”

“Aku bilang kalau kau sedang ada di klub malam. Hey, Mark. Maafkan aku ya.”

“Justru aku mau berterima kasih padamu, Jay. Dengan begitu Jackson tak akan menghawatirkanku.”

“Tapi, Mark. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya ? Kita sudah berteman cukup lama, kau tak pernah pergi dari rumah sewaan tanpa ada kabar. Kau ada masalah ?”

“Tidak. Aku hanya merindukan Ailee.”

“Ailee ?!!! Apa kau bercinta dengannya semalam ?”

“Bukan urusanmu, Jay.”

“Heyyy, kau memang playboy. Baru saja putus dari Suzy dan sekarang kau bermain hati dengan Ailee ? Hebat sekali!”

“Karena Ailee selalu mengemis cinta padaku, haha, sudahlah aku pulang duluan ya.”

“Hati – hati, Mark.”

Selama perjalananku kembali pulang, aku tak menyangka akan bertemu gadis polos itu. Suzy berada di hadapanku sekarang. Begitu sempitkah duniaku ? Haruskah aku bertemu dengannya ?

“Mark.” Dia memelukku. Dia tak memikirkan banyak orang yang lalu-lalang di jalan. Dia menangis dalam pelukanku. Aku tak tahu kenapa dia seperti itu.

“Mark, aku senang bisa bertemu denganmu disini. Aku sangat merindukanmu, Mark.”

“Hey, kita sudah putus. Jangan ganggu aku lagi. Ini yang terbaik buat kita, Suzy.” Aku melepas pelukkannya

“Mark, maafkan aku jika malam itu aku menolak permintaanmu. Aku ingin kau kembali padaku. Bawa aku ke hotel, Mark. Aku akan melakukan apa saja untukmu.”

“Mengapa tak di rumahmu saja ?”

“Kau gila ? Aku tak tinggal sendiri di rumah, orangtuaku pasti marah jika aku ketahuan bercinta.”

“Kalau begitu, lupakan aku. Aku tak bisa bercinta dengan gadis yang belum memiliki izin untuk bercinta dengan bebas.” Aku mendorongnya hingga ia terjatuh. Aku tak peduli, aku meninggalkannya.
Aku melanjutkan perjalananku kembali pulang, aku berharap aku tak bertemu secara kebetulan dengan mantan pacarku yang lain. Itu hanya membuatku risih. Sesampai di rumah sewa, aku melihat barang – barang berserekan di lantai (underwear, lipstick, sepatu, pakaian, tas).

“Mark, kau kembali.” dia memelukku dengan setengah bugil

“Pakai bajumu, Jackson. Kau tak tahu malu.”

“Kenapa aku harus malu denganmu ? Kita sudah bertahun-tahun tinggal disini. Kau bukan orang asing bagiku.”

“Urus saja jalangmu itu, aku ingin istirahat.”

“Okay.”

Aku tak mengerti bagaimana seharusnya menghadapi Jackson, aku berharap waktu mengubah segalanya secepat mungkin. Aku tak ingin menyakiti wanita lain lagi dan juga tak ingin melihat Jackson selalu bermesraan dengan jalang di rumah ini. Jika aku pindah kuliah dan menetap di luar negeri, mungkinkah akan berubah ? Mungkin saja aku bisa menjadi lelaki yang lebih baik dan bisa bersikap lembut dengan wanita. Aku masih memikirkan hal itu. Haruskah ?

“Mark, jangan melamun.” Jackson melemparkan bantal ke arahku

“Damn! Bantal ini sangat bau. Berapa lama kau bercinta dengan jalang itu ?”

“Hey, Mark. Jangan kasar begitu sama aku. Kau juga pernah bercinta, jangan munafik.”

“Pergilah, cuci bantal ini. Aku ingin muntah mencium bau itu.” aku membentaknya

*Malam hari

“Jackson, ada yang mengetuk pintu. Kau saja yang membuka pintu.”

“Okay.”

“Ah, Suzy ? Ada apa larut malam begini datang kesini ?”

“Bolehkah aku masuk, Jackson ?”

“Tentu.”

Apa yang di lakukan Jackson hingga dia tak kembali ke kamar ? Aku penasaran dan keluar dari kamar. Aku melihat Jackson mencium Suzy. Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Hatiku sangat sakit. Aku tak tahu mengapa, aku tak pernah sesakit ini. Apa aku masih sayang dengan Suzy ? Atau aku tak rela melihat Jackson mencium mantan pacarku ? Aku mengakui bahwa Suzy adalah wanita yang sulit di lupakan bahkan jika aku ingin. Aku putus dengannya bukan karena malam itu dia menolak untuk bercinta denganku tapi aku ingin Suzy mendapatkan lelaki yang baik bukan aku. Dan alasan mengapa aku bercinta dengan Ailee ? Karena Ailee adalah pelampiasan nafsuku. Dia selalu mengemis padaku, aku sangat tergoda setiap melihatnya. Aku tak bisa menolak jika dia ingin bercinta denganku. Tapi, Suzy, bukan ini yang aku mau. Aku tak mempermasalahkan jika dia tak ingin bercinta denganku, karena dia terlalu polos jadi aku bisa mengerti. Haruskah aku terluka seperti ini ? Aku tak bisa hidup seperti ini, aku pastikan untuk ke luar negeri besok.

“Mark, kenapa kau mengunci pintunya ?” dia menggedor pintu

“Tidurlah di kamar yang lain, aku ingin menikmati waktuku sendiri.”

“Okay.”

Aku sudah yakin untuk pergi dari negara ini. Seharusnya hal ini sudah ku lakukan dari dulu tapi baru bisa terlaksana sekarang. Aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan tas ku jatuh begitu saja di lantai. Aku terkejut melihatnya berdiri di depan pintu.

“Kau mau kemana, Mark ?”

“Oh, aku sudah pernah bilang bahwa aku ingin ke Los Angeles. Aku merindukan keluargaku, Jackson.”

“Kau tak akan merindukanku ?”

“Kau bilang bahwa kau tak keberatan jika aku pergi. Jackson, minggir. Jay sudah menungguku di 
bandara.”

“Tidak, Mark! Kau tak boleh pergi.” Dia memelukku sangat erat

“Kenapa ? Aku tak akan lama.”

Jackson menangis dalam pelukanku.

“Mark, aku tak ingin kau pergi. Tetaplah disini bersamaku. Selamanya.”

“Kau gila ?! Suatu hari nanti kita pasti menikahi perempuan.”

“Kau menginginkannya ? Tak bisakah kita berdua hidup bahagia ? Kita saja tanpa ada wanita.”

“Maksudmu ?”

“Kau tahu alasan mengapa aku berubah seperti ini ? Aku mengikutimu, bodoh. Aku bercinta dengan banyak wanita karena dirimu. Saat aku melihatmu bercinta dengan Ailee di sofa itu, aku bertekad untuk bisa sepertimu. Aku harus bercinta untuk menghilangkan cintaku padamu, Mark. Tapi aku sudah lelah.”

“Aku masih normal, Jackson!” aku meninggikan suaraku

“Jangan menipu hatimu, Mark. Aku tahu kau juga mencintaiku. Saat kita di taman, aku tahu bahwa kau juga menyukaiku. Bisakah kau tidak berbohong padaku, Mark ?”

“Aku ingin bertanya, apa saja yang kau lakukan dengan Suzy semalam ?”

“Kau melihatnya ? Kami hanya berciuman. Kauboleh tak percaya dengan apa yang ku katakan ini tapi yang pasti bukan aku yang memulai, Mark. Dia yang menciumku. Dia ingin aku memberikanmu padanya karena itulah dia menciumku.”

“Memberikanku padanya ?”

“Iya, Suzy menceritakan semuanya semalam. Kau ingat saat kau mabuk di kamarnya ? Suzy bilang bahwa kau mencintaiku. Kau ingin bercinta dengannya hanya demi pelampiasan. Dia menolak karena dia takut dengan ayahnya dan sekarang Suzy ingin kau kembali padanya, Mark. Tapi aku tak bisa, aku tak ingin melepaskanmu. Aku menceritakan perasaanku yang sebenarnya dengan Suzy. Dia menerimanya. Jadi, tolong lupakan Suzy. Aku tahu dia orang yang sulit untuk kau lupakan. Tapi cobalah untuk memulai dari awal lagi, Mark. Aku ingin hidup bahagia bersamamu.”

“Maafkan aku, Jackson. Kita tak bisa hidup seperti itu.”

“Kau juga menyukaiku!!”’

“Aku membutuhkan waktu untuk menyadarkan diriku sendiri.”

“Tidak perlu. Kau hanya membutuhkanku untuk menjadi milikmu.”

“Jackson, kita butuh waktu untuk memudarkan perasaan ini.”

“Mark, tolong. Jangan pergi dari hidupku.”

“Hal yang perlu kau tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasangan. Dan takdir seorang laki – laki adalah seorang wanita. Maafkan aku, Jackson.”

“Kita punya hak atas perasaan kita sendiri, Mark. Tak ada yang bisa melarang perasaan ini sekalipun Tuhan.” bentaknya

“Jackson , dengarkan aku. Di luar sana memang banyak pasangan yang sejenis tapi kita tidak bisa hidup seperti itu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk orang yang paling aku cinta. Aku ingin yang terbaik untukmu, Jackson. Aku ingin kita bahagia dengan jalan kita masing-masing. Aku ingin melihat kau menikah dengan wanita cantik lalu memiliki anak. Jika anakmu perempuan dan anakku laki-laki, kita bisa menjodohkan mereka. Kita bisa hidupa bahagia hingga tua menjadi sahabat.”

“Aku hanya ingin hidup bahagia dengamu, Mark tanpa wanita.” Jackson menatapku

“Jika kau benar – benar sayang padaku, lakukan apa yang aku katakan. Kau harus menikah dengan wanita yang kau cintai, cantik dan menerimamu apa adanya. Jika kau bilang kau mencintaiku, buktikanlah dengan menikahi seorang wanita. Kita akan bertemu kembali, Jackson. Aku pastikan akan kembali kesini untuk melihatmu menikah. Kau harus bahagia tanpa aku. Cinta yang kita rasakan mungkin hanya sementara dan ini sangat tidak wajar. Tolong lakukan ini demi aku. Kau harus berjanji padaku untuk melaksanakan keinganku. Janji ? Kau pasti bisa melakukannya untukku.”

“Iya, aku berjanji. Aku bersumpah akan menikah dengan wanita cantik dan kau pasti akan menyukainya selayak aku menyukainya. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu, Mark ?”

“Iya, apa saja untukmu.”

Jackson mencium bibirku. Hanya ini yang bisa aku berikan untuknya. Aku ingin kami bahagia dengan wanita. Biarkan ciuman ini menjadi awal untuk memulai kebahagiaan kami. Aku pasti kembali untuknya sebagai seorang sahabat. Dia berhak bahagia begitu juga denganku. Inilah akhir dari kisahku dengannya selama empat tahun. Jackson, nama itu tak akan pernah aku lupakan. Jika Tuhan tak mengizinkanku untuk bertemunya kembali, setidaknya dia takkan terhapus dari cerita hidupku. Dia akan selalu ada disini, di hatiku. Dan aku berharap Jackson juga tak melupakanku. Biarkanlah hidup berjalan sebagaimana mestinya. Yang aku tahu, inilah yang terbaik untukku dan Jackson. Ciuman ini berakhir dengan air mata bahagia.

“Sampai jumpa kembali, Jackson.” Aku memberikan senyuman terakhirku padanya





-THE END-


NOTE for versi english you can find out on #WATTPAD : http://www.wattpad.com/story/18192802-love-never-wrong-but-it-might-too-late-markson

Kamis, 15 Mei 2014

Fanfiction : Mr. Chu Secret (MarkJinSon GOT7)

Ok, ini masih pagi dan aku mendapatkan sms gelap lagi. Entahlah, entah siapa yang mengirimnya, aku tak mau peduli. Mark masih tidak mengerti apa maksud isi dan siapa yang mengirim sms itu. Dia tetap terpaku dengan gadgetnya tanpa menghiraukan member lain yang asik dengan sarapan mereka.
“Hyung, makanlah.” kata Bambam
“Iya.”
“Kau kenapa hyung ?” tanya Jr
“Tak apa.” (tersenyum)
****
#di kamar Mark-Jackson
“Kau kenapa ? ada yang aneh akhir-akhir ini.” kata Jackson
“Aku bingung, Jackson. Aku sering mendapat sms gelap.” kata Mark
“Kalau begitu ganti saja nomormu.”
“Tidak. Ini nomor dari ayahku, mana mungkin aku ganti.”
“Kalau gitu, hiraukan saja.”
Jackson keluar dari kamar meninggalkan Mark sendiri.
****
#di ruang latihan dance
“Jackson, kau sudah tanya dengan Mark hyung ? Dia kenapa ? Ada yang salah dengannya akhir minggu ini.” Tanya Jr
“Tidak ada. Dia tak bicara apapun padaku. Sudahlah, kita latihan saja.”
“Tanpa Mark hyung ?” tanya Bambam
“Hey, biarkan saja dia. Latihan tetap bisa berjalan tanpa satu atau dua orang yang tak ikut latihan.” Kata Jackson
“Baboya?!” kata Jr
“Egois sekali kau, Jackson. Tidak. Kita GOT7, kau sudah mengertilah apa makna dari GOT7 sendiri.”
“Hey, Jaebum hyung. Aku malas berantam sama kau. Kau bilang aku egois ? Lakukanlah sesuka hati kau ya. Lakukan seenakmu, kau leader kan ?!” kata Jackson dengan nada kasar
“Kau cari masalah ya?” kata Jb (mendorong Jackson)
“Kau, a little jerk!” bentak Jackson
Hal ini jarang terjadi. Tapi, member lain tetap menerima hal-hal yang tak terduga seperti ini.
“Sudah, Jackson!!!!!!!” teriak Jr
*paaaaaaank
Jackson memukul pipi Jinyoung hingga berdarah. Mark masuk ke ruangan. Dia melihat Jinyoung berdarah, dia langsung ke arah Jinyoung.
“Gwaenchanha ?”
“Ne, hyung. Aku tak apa-apa.”
“Babo!” kata Mark (punch Jackson)
“Sudah hyung sudah.” kata Bambam
Jackson mendapat pukulan keras dari Mark hanya bisa diam dan menatap Mark dengan sinis sementara itu Yugyeom yang melihat suasana semakin kacau akhirnya menangis. Jackson tak kuat, dia keluar dan membanting keras pintu.
“Sini aku obati, Jinyoung.” kata Mark
****
#di kamar Mark-Jackson
Mark masuk ke dalam kamar dan melihat Jackson sedang tertidur. Dia duduk disebelah Jackson. Melihat pipinya yang merah lalu memegangnya. “Maafkan aku, Jackson. Aku hanya tak terima kau bersikap kasar apalagi saat kau melukai Jinyoung. Dia tak pantas mendapatkan pukulan darimu.” ucap Mark sambil mengelus pipi Jackson
“Hyung.” kata Jackson (memeluk erat Mark)
“Tidurlah. Kau pasti kesakitan karena pukulanku.”
“Aku tak ada maksud untuk memukul Jinyoung, aku hanya kesal dengan Jaebum. Dan aku tak tahu, kenapa aku mengarahkan tanganku ke Jinyoung.”
“Aku juga tak ada maksud untuk memukulmu, Jackson. Sudah, lain kali jangan lakukan itu. Aku tak suka, ara ?” kata Mark (membalas pelukan Jackson lalu mencium pipi Jackson yang merah)
****
19.00
#di ruang makan
“Kau sudah mendingan, Jinyoung ?” tanya Mark
“Ne, hyung. Gomawo.” kata Jr sambil tersenyum
Jackson melihat ke arah Jinyoung, mengepalkan tangannya. Lalu, Jaebum menghampiri Jackson.
“Meskipun aku tahu aku gak salah, tapi tak ada salahnya jika aku meminta maaf. Mianhae.” kata Jb
“Maafkan aku juga, hyung.”
“Nah, gitu. Seharusnya tak ada yang perlu dibesar-besarkan.” kata Yugyeom (merangkul Jaebum dan Jackson)
“Aku juga mau ikutan dipeluk.” kata Bambam (melakukan pose aegyo yang tak terduga)
Jaebum, Jackson, Yugyeom, Bambam, Youngjae saling berpelukan. Tapi Mark dan Jinyoung tetap di bangku mereka. Mark memegang tangan Jinyoung sambil tersenyum ke arah Jackson. Jackson yang melihat Mark ke arahnya, dia mulai melepaskan pelukannya dari member lain.
“Aku mau makan. HAHA.” ucap Jackson
Semua member menikmati makan malam mereka.
****
#di kamar Mark-Jackson
Lagi-lagi dia menggangguku. Apa maksudnya ? Dia memiliki rasa denganku ? Apa aku pernah bertemu dengannya ? Siapa dia ? tanya Mark dalam hati.
“Hyung, kau masih memikirkan sms itu.” tanya Jackson
“Iya. Aku tak mengerti maksudnya apa.”
“Memang apa isinya ?”
“Dia bilang “Saranghae, Mark. Always and forever. I don’t want to lose you. Now, I wish your heart only for me. From Mr. Chu.”
“Apa yang mengirimkan pesan itu suka dengan lagu Apink ? Mr. Chu ?” Jackson mulai melakukan tingkah konyolnya dengan menyanyikan lagu Mr. Chu
“Hey, Jackson. Aku serius.”
“Aku tak bercanda.”
Jackson berbaring dikasur tanpa melihat kembali ke arah Mark yang masih saja melihat isi pesan tersebut. Mark meletakkan gadgetnya di meja. Dia pun ikut tidur dan memeluk Jackson layaknya teddy bear.
****
Hari ini adalah hari pertama GOT7 untuk melakukan rekaman untuk album baru mereka. Seharusnya semua member sudah rapih tapi tidak. Jackson masih tertidur dipelukan Mark. Jinyoung menghampiri mereka dan kembali keluar karena melihat Jackson Mark yang tertidur pulas.
“Kau tak membangunkannya ?” tanya Jb
“Ah, hyung. Mereka masih tertidur pulas. Aku tak tega.”
“Yasudah, kita tunggu saja sampai mereka bangun.”
“Biarkan aku saja yang membangunkan mereka, hyung.” kata Bambam
Bambam menuju ke kamar Mark Jackson.
“Hyung, bangun. Member yang lain menunggu kalian di luar.” kata Bambam, kemudian dia menarik selimut mereka
“Andwae, hyung!! Hyung!!” teriak Bambam sambil membangunkan Jackson
“Lihat Mark hyung. Hidungnya berdarah, hyung.”
“Hey, Mark. Mark hyung, bangunlah.” (memegang wajah Mark)
“Hyung.” kata Bambam (menangis)
“Kau panggil dokter, cepat!! Kangta!!”
Jackson masih memeluk Mark yang tak sadarkan diri. Sedangkan Bambam keluar dari kamar untuk memberitahu member yang lain. Setelah itu, dia memanggil dokter. Member lain segera menuju ke kamar Mark-Jackson. Mereka melihat Jackson menangis sambil memeluk Mark.
“Hyung.” teriak Jr (berlari ke arah Mark Jackson)
“Hyung, bangunlah.” ucap Yugyeom (menangis)
Tak lama kemudian, dokter datang. Keadaan Mark pun membaik. Semua member sudah bisa lega sekarang. Jinyoung, Jackson, Bambam, Yugyeom telah berhenti menangisi Mark.
“Aku tak mengerti mengapa kalian menangis seperti itu.” tanya Jb
“Iya, kalian menangis seakan-akan Mark hyung meninggal.”
“Tutup mulut kau! Jangan sampai aku memukulmu, Youngjae.” kata Jackson
Jackson keluar dari ruangan dan membanting pintu. Dia tak menunggu Mark. Dia pergi untuk menenangkan dirinya. Jinyoung menyusul Jackson dari belakang. Dan member lain keluar dari ruangan kecuali Bambam. Dia satu-satunya yang menunggu Mark diruangan hingga Mark menyadarkan diri.
“Aku tahu betapa khawatirnya kau dengan Mark, Jackson.”
“Jangan sok tahu dengan perasaanku, pergilah! Aku tak mau kau disini.”
“Jackson, aku ingin bertanya.”
“Apa ?”
“Saat kau berantem dengan Jaebum, orang yang seharusnya dipukul bukan aku. Kau marah dengan Jaebum tapi mengapa aku yang jadi sasaran pukulan kau ?”
“Karena kau terlalu suka ikut campur urusanku! Kau tahu, kau sangat menjijikkan Jinyoung.” kata Jackson
Jackson berdiri lalu pergi. Dia kembali keruangan dimana Mark terbaring. Jinyoung hanya melihat Jackson dari kejauhan dan berkata dalam hati “Mianhae, Jackson. Aku memang tak seharusnya ikut campur tapi aku takkan biarkan kau menyimpan rasa itu untuk seterusnya. Tidak akan pernah.”
“Bagaimana keadaan Mark ? Dia sudah bangun ?”
“Belum, hyung.”
“Kau kembali saja bersama member lain. Biar aku saja yang menjaga Mark. Kau sarapan dulu, Bambam.”
“Ne, hyung. Nanti ku bawakan makanan kesini.”
“Iya.”
Jackson hanya terdiam dan memegang tangan Mark. “Mark hyung, maaf karena tak bisa menjagamu dengan baik. Aku tak bisa menepati janjiku pada ayahmu. Mianhae, hyung.” kata Jackson (membisik di telinga Mark)
Jackson mengambil gadgetnya dan berhasil mengirim pesan rahasia tersebut. Lalu, dia meninggalkan Mark sendiri di ruangan. Tanpa Jackson sadari, Mark mendengar apa yang dia ucapkan tapi tak melihat apa yang telah Jackson lakukan.
****
#di ruang makan
“Ah, hyung. Kau tak menemani Mark hyung ? Aku kan sudah bilang akan membawa makanan kesana.” kata Bambam
“Aku sangat lapar, Bambam. Lagipula, dia sudah baikkan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.”
“Sudah, sudah. Mari makan.” kata Jb
“Aku pergi menemani Mark hyung. Dan membawa makanan ini, guys.”
Jackson menghalangi Jinyoung untuk kesana. Bambam yang melihat hyung nya bertindak seperti itu, dia langsung ke arah Jackson dan Jinyoung.
“Aku sudah selesai makan, biar aku saja yang menemani Mark hyung.” kata Bambam
Jackson kembali kebangkunya dan menikmati sarapannya. Sementara itu, Bambam membawakan makanan ke kamar. Dan kembali menemani Mark yang masih tak sadarkan diri.
****
#di kamar Jaebum-Youngjae
“Aku tak pernah mengerti dengan Jackson hyung.” kata Youngjae
“Kita tak akan pernah mengerti tentang Jackson. Dia satu-satunya yang tak pernah bisa untuk kita mengerti.”
“Hyung,  Jinyoung dan Jackson hyung selalu seperti itu. Seandainya Mark hyung tahu, begitu kasihan dia.”
“Sudahlah Youngjae. Kau tak perlu berpikir yang aneh-aneh. Jinyoung sayang sama Mark. Jackson juga seperti itu. Kita juga sama sayang dengan Mark. Tapi mereka lebih meyanyangi Mark daripada rasa sayang kita ke dia.”
“Ne, hyung. Ah, btw apa tak sebaiknya kita bicarakan baik-baik dengan Jackson hyung ? Aku tak mau dia memukul Jinyoung hyung untuk kedua kalinya, hyung.”
“Tenanglah, Youngjae. Semua ada waktunya. Waktu yang tepat. Keep calm now, okay.”
“Arasseo.”
****
“Kau sudah bangun, hyung? Ah, senangnya aku.” Kata Bambam (tersenyum lebar)
“Dimana Jackson ?”
“Oh, dia bersama member lain. Kau makan dulu hyung, aku suapin.”
“Tidak usah, Bambam. Aku bisa makan sendiri. Kau keluarlah, aku mau sendirian disini dan bilang sama yang lain kalau aku masih tidur. Tolong Bambam, jangan biarkan satu dari mereka masuk kesini. Aku benar-benar ingin sendiri.”
“Iya hyung.”
Bambam keluar dari ruangan tersebut, kembali ke tempat dimana member lain berkumpul. Berusaha untuk mencegah di antara mereka yang ingin melihat Mark. Sementara itu, Mark mengambil gadgetnya dan melihat pesan baru. “Pasti dari orang itu lagi.” ujarnya dalam hati.
Aku tak ingin melihat kau sakit seperti itu, aku tak bisa berdiri tegak saat melihat kau berbaring lemah dalam pelukanku. Hatiku sangat sakit. Mianhae. Aku lah Mr.Chu. Ini aku. Kau seharusnya tahu bahwa itu aku. Aku sengaja memakai nomor lain, ingin menguji apa kau mengenali aku. Aku ingin tahu seberapa jauh kau mengenali perasaanku. Pesan yang ku kirim kepadamu, itulah perasaanku sebenarnya. Maafkan aku, memang tak pantas. Tapi jujur, aku tak bisa berhenti menyanyangimu dan berpura-pura untuk tidak menganggapmu sebagai milikku. From Mr. Chu
Setelah membaca pesan itu, dia menjatuhkan handphone nya ke lantai. Dia bangun dari kasur dan berlari ke tempat dimana semua member berkumpul. Dia masuk ke ruangan latihan dance, melihat siapa sebenarnya Mr. Chu diantara member GOT7. Dan Mark berlari ke arah Jinyoung, memeluk erat Jinyoung.
“Mark hyung.” kata Jinyoung
“Mark hyung.” ucap Bambam pelan. Bambam tak menyangka hyungnya akan lari seperti itu setelah sadarkan diri
“Mianhae, Jinyoung. Mianhae. I know it’s you. Jeongmal, mianhae.”
“Apa maksudmu, hyung ? Ha, aku tak mengerti ?” tanya Jr
“Diamlah Jinyoung. Jangan berpura-pura untuk tidak mengerti.” kata Mark (mengeratkan pelukannya)
Jackson hanya terdiam melihat bagaimana cara Mark berlari ke arah Jinyoung, memeluk erat Jinyoung dan mengatakan kata-kata itu lalu tak lama dia keluar meninggalkan ruangan. Bambam melihat keluhan di wajah hyungnya. Tapi, Bambam tak bisa mengatakan apa-apa. Karena yang memang bisa membaca Jackson hanya Bambam.
Aku senang kau sudah mengenaliku. Aku berharap kau tak membenci perasaanku. Ini rahasia ku denganmu, aku memang Mr. Chu. Orang yang selalu tulus menyanyangimu meskipun aku bukanlah orang yang ada dihatimu.
Send message? >> Sent >> D

THE END